Postingan

"Luka Di Oeleta" Oleh Om Hiro

Seribu meter diatas bumi Di ujung kota kasih Dua mawar layu di taman sepi Mereka yang tak punya hati menitip mati 'Aku mencintaimu Lael' gumam Sang ibu dengan malu-malu Dosa tiga tahun lalu merambah subur di tanah Penkase Hilang ditelan November, menjemput  Kita direnggut tanpa pamit pada bait Luka, duka merobek kesunyian malam Menerobos dengan liar ke sisi jalan Mencoba menyulam senyum  Hingga kabar dikubur diam-diam Mungkin mereka yang sudah terbiasa  Hingga tak diingat lagi apa itu dosa  Tak cukup kita menanam tawa  Media sembunyikan fakta. Lalu ibu setengah muda itu pergi  Malaikat kecil Memancarkan senyum paling gigil Satu malam untuk seribu malam yang sunyi Jangkrik bernyanyi dengan sedih Masa laluku yang pilu Aku rapuh, aku malu  Kau akan selalu lelap alam kalbu Maafkan ibu

KIDUNG LARA Oleh: Edelbertus Odil Dodok

Senja itu, Aku termenung dalam dekapan dingin Mengapa setiap detik yang kulalui terasa sunyi Derap melangkah seorang diri dalam kehampaan Kucoba tegar dalam menapaki jalan yang penuh luka Senja itu, Derap langkahnya tak terdengar lagi mengentak Symphoni yang dia dendangkan tak lagi bersenandung Dia telah pamit dan tak ‘kan pernah kembali Atma dan asaku hancur bagai puing Senja itu, Aku melangkah dalam hamparan sunyi Mengenang dia yang terpelesat pergi Kucoba mendamaikan asa dan atmaku  Yang larut terbelenggu diterpa duka dan lara Senja itu, Dalam batin yang terisak tangis Dalam sukma yang tertusuk sembiluh Atmaku coba menelan pahitnya ditinggal Mencoba tegar meski raga tak kuat karang

DUA MATA DIBALIK JENDELA Karya : Maria Cindayani Rosari Limun

Aku ingin wartakan kisah tentang hati yang tersapa rasa, tentang hati yang hilang sembunyi tak tergamit jemari, pikiran lusuh dan keruh. Saat pelangi tak lagi mewarnai langit, ingin rasanya lenyap diperut waktu berjalan jauh tanpa mengenal cinta. Setidaknya itulah yang ada dipikiranku sekarang, menghilang. Mengapa tidak? Saat Ayah yang disebut cinta pertama mematahkan dongeng yang dengan susah payah ku bangun.  “Brukkkkkk…..” Aku menoleh dan mendekati gudang tempat asal suara. Perlahan tapi pasti ku buka pintu gudang yang tidak terkunci. Terkejut, Aku melihat seorang laki-laki yang tidak asing sedang mencumbu seorang perempuan  yang menggunakan setelan jas, dan bukan lain adalah guru matematikaku. Aku membeku, hingga Bu Susan menoleh dan mendapatkanku sedang berdiri di batas pintu. “ E..llaaa..” Seru Ibu Susan dengan terbata-bata. Membuat Pak Beni, yang merupakan Bapaku menoleh dan langsung membulatkan mata.  “Nak….” Maju selangkah untuk mendekat. “jangan mendekat” La...

Hujan dan Memori Karya :Sepriana Ly Natto

Entah kenapa, aku sangat suka memandangi hujan, bagiku hujan adalah sebuah kenangan. Karena hujan aku dapat menemukan apa arti cinta dan persahabatan itu. Aku selalu memperhatikan setiap tetes hujan itu jatuh membasahi bumi ini. Aku selalu memandangi semua itu penuh arti. Hingga aku selalu teringat saat-saat itu. Saat aku dengannya di bawah setiap air hujan itu. Masih terlintas jelas kejadian itu dibenakku, kejadian satu tahun silam ketika aku masih bersamanya. Leon, Leonnal Tanubrata lengkapnya, ya itu nama orang yang pernah singgah dalam kehidupanku.  Kak Leon. Tungguin aku kenapa sih? Jangan buru-buru...  Omelku pada pemudah yang bernama leon itu.  Yah, lemot banget sih kamu, Nes? Cepat dikit kenapa sih uda hampir hujan ini. Iya, bangke. Jawabku sembari berlari kecil kepadanya. Ines Lee itu adalah nama lengkapku. Aku terlahir dari keluarga yang cukup terpandang. Aku masih duduk di bangku perkuliahan semester III, sedangkan Kak Leon, dia sudah semester V. Aku dan Kak Le...

GERIMIS MENGUNDANG RINDU Karya : Dorotea Anut

Sore itu, senja tersipu malu memancarkan sinarnya, dan dengan percaya dirinya mendung hadir bersama dengan gerimis yang mengundangku untuk bernostalgia kembali akan kisah asmaraku sewaktu SMA dulu. Aku duduk sendiri di pojok jendela kamarku sambil menikmati  secangkir susu hangat bercampur madu buatan mama dan sedikit camilan khas dari daerah kami yaitu serabe. Sungguh aku sangat menikmati setiap tetesan-tetesan gerimis hujan yang membasahi jendela kamarku di sore itu.  Yah…aku menikmatinya sembari aku menelan dalam-dalam kisah asmaraku saat ku duduk di bangku SMA dulu.  Sebut saja, namanya Rahmi dia adalah kekasih ku dulu saat masih SMA yang sekarang menjadi…hemmm.. sulit sekali aku mengatakannya. Bisa dibilang mantan kekasih, bisa dibilang juga masih menjadi tambatan hatiku. Karena, kisah asmara kami sungguh rumit, hingga sekarang masih terbayang. terus wajah dan kisah kami di hati dan pikiran ku. Rahmi dulu adalah kakak kelasku. Aku masih kelas X SMA sedangkan dia suda...

DUKA AWAL OKTOBER Karya:Petry Jasinta Penu

  Tahun ke enam awal oktober tahun ini tak berpihak pada aku dan kamu.Tak seperti lima tahun belakangan kita menantikan hujan-hujan penghantar menuju Desember bersama-sama. Kali ini aku dan hujan,Yah, hanya dengan hujan sembari mengingat kembali kenangan-kenangan lima tahun belakangan entah kenapa tiap kali hujan turun serasa bersama kenangan-kenangan yang ikut tergenang dan di paksa untuk di kenang disusul air mata yang ikut berlinang.  Enam tahun kau yang sudah ku anggap seperti saudara, teman berbagi kini menghilang tanpa penjelasan kau tak tau betapa berdukanya hati, pikiran, dan raga ini kehilangan sosok yang selalu menebarkan tawa aku tak tau apakah kau juga merasakan apa yang aku rasakan atau biasa-biasa saja?. Sore ini  hujan kembali datang aku berjalan menuju lemari dan mengambil hadiah dari Bali yang kau berikan tiga tahun lalu Ya jaket, aku mengambil dan mengenakannya sedikit meringankan duka di pikiranku lalu berjalan menuju dapur memasak mie instan dan es teh...

KOMTUSTRA

Gambar
 KOMUNITAS TUNGKU SASTRA