DUKA AWAL OKTOBER Karya:Petry Jasinta Penu
Tahun ke enam awal oktober tahun ini tak berpihak pada aku dan kamu.Tak seperti lima tahun belakangan kita menantikan hujan-hujan penghantar menuju Desember bersama-sama. Kali ini aku dan hujan,Yah, hanya dengan hujan sembari mengingat kembali kenangan-kenangan lima tahun belakangan entah kenapa tiap kali hujan turun serasa bersama kenangan-kenangan yang ikut tergenang dan di paksa untuk di kenang disusul air mata yang ikut berlinang.
Enam tahun kau yang sudah ku anggap seperti saudara, teman berbagi kini menghilang tanpa penjelasan kau tak tau betapa berdukanya hati, pikiran, dan raga ini kehilangan sosok yang selalu menebarkan tawa aku tak tau apakah kau juga merasakan apa yang aku rasakan atau biasa-biasa saja?.
Sore ini hujan kembali datang aku berjalan menuju lemari dan mengambil hadiah dari Bali yang kau berikan tiga tahun lalu Ya jaket, aku mengambil dan mengenakannya sedikit meringankan duka di pikiranku lalu berjalan menuju dapur memasak mie instan dan es teh dingin sama seperti kesukaanmu ditemani hujan dengan begitulah aku sedikit meringankan duka dipikiranku walau hanya sekejap. Kembali lagi aku ke kamar berbaring dan mendengarkan musik Favorit kita sambil memejamkan mata tapi tidak terlelap sekedar bernolstagia dengan pikiran mengenai beberapa tahun belakangan,rasanya tak pernah menerima kenyataan bahwa kau yang dulu berjanji takkan pergi,yang tak mau pergi walau aku ingin pergi sekarang benar-benar pergi.
Keesokan paginya, tiba-tiba handphoneku berdering dengan terkaget-kagetnya aku melihat layar handphone tertera namamu, lekaslah aku mengambil handphone itu dan menerima telepon darimu.
Katanya “ Hallo aku ingin bertemu denganmu sekarang yah”. Hanya kalimat itu yang aku dengar kaupun lalu mematikan handpone akupun terheran dan lekas bersiap untuk bertemu denganmu pagi itu . apalagi kau, yang menghilang tiba-tiba mengajak bertemu langsung saja aku bersiap dan bergegas dengan sepeda motorku ke tempat yang sudah di sepakati, Sesampainya disana aku dari kejahuan melihat kamu sedang duduk sambil melihat layar handphone akupun menghampirimu. Lalu, kaupun hanya terdiam tak seperti kau yang dulu yang selalu ceria setiap kali kita bertemu. aku langsung bergegas duduk disampingmu lalu merapatkan badan ke arah kamu tapi kau mulai menjaga jarak tibalah pada obrolan yang akhir-akhir ini aku tunggu ya penjelasan kamu.
Kaupun lalu mulai mengangakat nada bicara dengan menjelaskan bahwa selama setahun belakangan ini kau sudah jenuh dengan hubungan yang telah dijalani enam tahun lamanya, kau sudah bosan dengan sifat-sifat kekanakanku, kau ingin sendiri memulai kisah baru tanpa diriku mengurus adik-adikmu karena ibu dan ayahmu yang sudah tidak ada lagi. Padahal, kita pernah berjanji bersama-sama dalam keadaan apapun dan akupun sadar janji itu hanya ucapan dan ucapan bisa berlalu. kau mengatakan semuanya aku hanya tertunduk dan menangis tak henti-hentinya karena, orang yang sudah seperti saudara sendiri di perkenalkan ke lingkungan aku . yang selalu bersama kini meminta untuk berpisah . aku yang tetap kokoh mempertahankan hubungan ini tidak bisa mengimbangi kamu yang memang sudah tidak mau lagi.
Aku yang mendengar semua alasanmu yang menurutku hanya sepihak terus mencoba berdebat tentang semua alasanmu tapi kau tetap tidak tergoyahkan dengan semua alasanmu, kemudian aku bangun dari tempat dudukku berdiri dan sambil menangis menuju kendaraanku dan bergegas pulang meninggalkan kamu yang tinggal sendirian di tempat itu, Aku lalu mengendarai motor dengan sangat laju walaupun ku tau itu berbahaya bagi keselamatanku tapi ah!. sudahlah aku sedang kecewa jadi tidak memperdulikan itu.
Sesampainya di rumah sore itu yang dalam perjalanan hujan aku langsung berlari dan mengganti pakaianku yang basah kemudian uring-uringan di kasur sambil mengingat kembali ucapan-ucapan selamat tinggal dari mulutnya.
“ Ah... Sakit sekali dadaku !”.
“Aku baru merasakan patah hati sehancur-hancurnya kali ini”. kataku dalam hati
“Benar kata quotes yang pernah aku baca, orang tidak akan pernah tau rasanya kehadiran sebelum adanya kehilangan".
Tiap kali memejamkan mata, teringat kembali kenangan-kenangan kita dari satu sma sampai sekarang kau sudah menjadi abdi negara sebagai tentara. suka duka aku dan kamu sangat sulit dilupakan.
Perjalanann yang begitu panjang, waktu yang begitu lama,kenangan disetiap sudut-sudut kota akan selalu terngiang di kepalaku.
Sungguh ini salah satu duka awal oktober bagi aku, Iya bagi aku yang selalu bergantung bahagia denganmu dan saat kau memutuskan tak ada. sangat menyakitkan bagi remaja seperti aku yang sedang merasakan indah-indahnya jatuh cinta.
Saat aku sedang merenung tiba-tiba adik ku mayang datang dan menghampiri aku ke dalam kamar dan bergurau "kak kenapa melamun mulu udah kayak mikir beban hidup aja hehehe sembari tertawa mengejekku",
“Ah aku gak apa-apa kok”. sahutku
“Alaaah masa gak apa-apa orang dari tadi mayang masuk kamar kaka melihat kaka sedang merenung sampai-sampai aku masukpun tak sadar”. Cetus Mayang
Aku lalu memanggil mayang untuk duduk bersama-sama dengan aku di tempat tidurku.
Seketika juga tak terasa, malam menghampiri seperti biasa hujan yang deras sore tadi sudah mereda tapi belum mengakhiri rintikannya, aku dan adikku Mayang duduk dan bercengkrama. Aku mulai menceritakan kisahku hari ini agar aku merasa sedikit lega ketika orang lain mendengar ceritaku ini. dengan cukup mendengar saja sudah membuat aku merasa lebih baik.
Mayang begitu menyimak apa yang aku bicarakan, Layaknya seorang saudara memberi masukan-masukan yang membuat aku untuk mencoba belajar ikhlas. karena kata mayang adikku orang-orang dalam hidup ini akan datang dan pergi baik itu berpamitan ataupun tanpa pamit . setiap pertemuan pasti akan ada perpisahan, Beginilah problematika anak-anak remaja yang tidak lepas dari dunia percintaan tapi boleh di akui kalau menjadi orang dewasa itu sungguh melelahkan, menyakitkan, memiluhkan tapi inilah kenyataannya kita tidak dapat menghindar dari rasa kecewa, sedih, senang. semua ada masanya hari ini tidak akan sama seperti hari esok. Sembari mendengar omongan Mayang aku bergurau pada Mayang.
"Wiiih adikku ini kecil badannya tapi kalau soal nasihat cinta-cintaan besar sekali wawasannya".
Mayang langsung menyangah pembicaraanku " Kakakku ini sedang patah hati tapi masih aja bergurau”.
“ Ah sudahlah aku mau pergi makan fulu yah kak”. (sembari berjalan)
Aku kembali menyendiri di kamar seketika aku ingin sekali kembali pada masa-masa kecilku dimana aku hanya tau bermain ,tertawa tanpa ada rasa kecewa, rasa sedih dan hal-hal menyakitkan lainnya masa dimana aku menunggu hujan untuk menikmati airnya bukan kenangannya dan sekarang ku pikir dia seperti hujan yang datang tanpa bisa ditahan dan pergi dengan menyisakan genangan-genangan yang butuh waktu untuk meresap pada tanah begitu juga dengan duka awal oktober yang aku rasakan kini.
Komentar
Posting Komentar