DUA MATA DIBALIK JENDELA Karya : Maria Cindayani Rosari Limun
Aku ingin wartakan kisah tentang hati yang tersapa rasa, tentang hati yang hilang sembunyi tak tergamit jemari, pikiran lusuh dan keruh. Saat pelangi tak lagi mewarnai langit, ingin rasanya lenyap diperut waktu berjalan jauh tanpa mengenal cinta. Setidaknya itulah yang ada dipikiranku sekarang, menghilang. Mengapa tidak? Saat Ayah yang disebut cinta pertama mematahkan dongeng yang dengan susah payah ku bangun.
“Brukkkkkk…..” Aku menoleh dan mendekati gudang tempat asal suara. Perlahan tapi pasti ku buka pintu gudang yang tidak terkunci. Terkejut, Aku melihat seorang laki-laki yang tidak asing sedang mencumbu seorang perempuan yang menggunakan setelan jas, dan bukan lain adalah guru matematikaku. Aku membeku, hingga Bu Susan menoleh dan mendapatkanku sedang berdiri di batas pintu.
“ E..llaaa..” Seru Ibu Susan dengan terbata-bata. Membuat Pak Beni, yang merupakan Bapaku menoleh dan langsung membulatkan mata.
“Nak….” Maju selangkah untuk mendekat.
“jangan mendekat” Larangku dengan suara bergetar.
Runtuh. Aku berbalik dan berjalan cepat.
“Bagimana bisa mereka sebagai seorang guru, melakukan hal demikian di sekolah?’ Tanya ku dalam hati tanpa menemukan jawabannya.
Saat itu, usiaku baru 13 tahun dan aku duduk di bangku 1 SMP. Hubunganku dengan Ayah menjadi tidak harmonis, aku tidak pernah lagi berbicara dengannya. Ibu pernah bertanya, tapi aku diam. Wanita itu teralalu baik untuk disakiti, keluarga ini terlalu cepat untuk dihancurkan. Kejadian itu, membuat aku menjauhi laki-laki. Tidak percaya akan cinta bahkan bersumpah untuk tidak pernah jatuh cinta. Namun, siapa sangka? Aku malah terjebak dan menelan sumpah ku sendiri.
“Ayo” Tangan itu kembali terulur saat aku hampir mampus dikerjain teman-teman kelasku. Aku masih membeku, kedua lututku berdarah hingga membuat aku susah untuk berdiri. Dengan senyum yang mengembang dan mata yaang teduh, dia berusaha untuk menggendong aku.
“Andreee, turunkan aku. Nanti apa kata orang?”
“Tidak usah pedulikan mereka” Jawabnya sambil berusaha mempercepat langkah agar bisa cepat sampai di UKS. Sampai di UKS,dia mendudukkan ku pada sebuah kursi. Lalu mengambil kotak P3K untuk membersihkan lukaku.
“Dasar gadis bodoh. Kalau sudah dalam keadaan terjebak begitu, kamu seharusnya berteriak. Bukannya diam dan menerima segala tindasan mereka” marah Andre dengan tangan yang terus membersihkan luka di lutut ku.
“ Bagaiman bisa aku melawan, merekakan banyak orang”
Andre tiba-tiba bangun dan mencondongkan tubuhya ke arahku. Aku terkejut dan hampir jatuh ke belakang. Dengan sigap tangan Andre menangkap pinggangku.
DEGDEG…DEG..DEG…
Bunyi detak jantungku tak karuan saat wajah kami berada di posisi yang sangaat dekat.
“hahahahaha hhhhahahah…” Tawanya memecah sunyi “ Wajahmu merah seperti kepiting rebuss”
“ Ihhh… Andreeee, Kepiting kalau sudah direbuskan warna oranges” Pertengkaran kecilpun terjadi.
Aku tidak tahu, sejak kapan aku begitu dekat dengan Andre. Aku masih ingat bagaimana sikap dingin dan kata-kata kasarku kepada Andre tiap kali datang mendekat.
“Anjing saja langsung lari jika dilempar batu. Kamu kok tidak, yah? Manusia bukan, binatang bukan, terus apa? Ucapku pelan dengan penuh penekanan. Dia diam, lalu tersenyum
“ Aku adalah malaikat tak bersayap yang diutus dari Uranus untuk melindungi mu tuan putry” Balasnya dengan suara berat yang dibuat-buat dengan tangan diperut dan membungkuk layaknya hamba.
“Najis. Emang binatang loh yah, tidak mengerti bahasa manusia” seruku kasar dan mendorongnya ke samping dengan kuat
“hahahaha hahahah…..hati-hati tuan putry, nanti cantiknya bertambah jika selalu merengut” teriaknya lantang, yang membuat akau mendapatkan tatapan sinis dari cewek –cewek yang mengagumi ketampanan Andre.
“Dia itu manusia jenis apa sih. Udah ditolak, dikasarin, dicuekin, bukannya menjauh malah makin lengket” Omelku sepanjang lorong tanpa mempedulikan hiruk pikuk siswa yang lain.
Tapi, itu dulu. Sekarang kami sudah duduk di kelas 2 SMA, tembok yang ku bangun dengan kuat perlahan-lahan Andre berhasil menghancurkannya.
Sejak Dia melihat aku dibully oleh teman-teman kelasku, setiapp hari 5 menit sebelum lonceng berbunyi dia sudah berada di luar ruangan kelas, entah bagaimana caranya agar bisa keluar kelas terlebih dahulu. Di depan kelas, Andre hanya berdiri tegak menatap aku melalui jendela. Awalnya aku risih, tapi lama-kelamaan aku merasa nyaman dan senang karena merasa terlindungi.
Hari ini, dia paksa agar aku pulang dengannya. Dengan tetap mempertahankan egoku untuk tidak dekat dengan laki-laki, aku menolak permintannya. Saat aku berdiri sendiri depan gerbang sekolah, Kak Rinto pacar dari teman sekelasku berhenti.
“ Ella, pulang bareng yuk!” Ajaknya sambil memegang tangan ku. Hal ini membuatku semakin benci, karena gara-gara dia juga aku dilabrak oleh Grace pacarnya, sampai lutut dan sikuku luka.
“Tidak kak, terima kasih.” Jawabku pelan sambil melepaskan tangganya.
“Ayolahhh…”
Saat Kak Rinto membujuk dan kembali ingin menggenggam tanganku, Andre tiba-tiba datang menarik tanganku dan menyembunyikan di belakang punggungnya yang lebar.
“Maaf kak. Biar saya sendiri yang menghantar pacar saya, Ella” Seru Andre yang tiba-tiba datang dan berbicara penuh penekanan pada kata Pacar.
“Apaan sihhh”… Aku berusaha melepaskan tangganya, tapi kekuatanku tidak sebanding. Hingga, Kak Rinto pergi barulah dia melepaskan genggaman tangannya.
“Aku yang hantar” Sambil memakaikan helm di kepalaku
“Akukan tidak menjawab iya, kenapa langsung dipakaikan helm bege?” Berontakku
Bukan Andre namanya jika tidak keras kepala. Sampai di rumah, aku turun di depan pagar dan tiba-tiba…
“Pranggg…. Bunyi benda yang pecah dari dalam rumah. Aku terkejut tapi berusaaha sebisa mungkin untuk tenang
“Makasih yahhh… sekarang kamu boleh pulang”
“Baiklah”
Tanpa banyak tanya dan mungkin karena dia mengerti, dia tidak membantah dan langsung pergi.
Aku masuk ke dalam rumah, dan mendapatkan rumahku yang tidak ada bedanya dengan kapal pecah.
“Sudah berapa lama? Sudah berapa lama kamu bersama wanita ituuuu?” Teriak Ibu sambil melemparkan bantal sofa ke arah Ayah.
Aku terkejut dan langsung menutup mulutku dengan tangan. Akhirnya, jendela rahasia yang selama ini ku tutup rapat-rapat pun terbuka dan bersuara.
“Plakkkk….”suara tamparan yang begitu besar mendarat di pipi Ibu yang membuuatnya tersungkur di lantai
“Jangan pernah membanding-bandingkan aku dengan ayahmu. Aku selingkuh, tapi tidak berganti-ganti wanita”
“Apa bedanyaaa?” Teriak Mama “kalian sama-sama saampah”
“Ahhh….” teriak Ayah sambil menendang Ibu
“Ayahhhhhhhhhhh” Teriak ku dengan lantang. Sementara air mataku sudah menganak sungai, membuat aku hampir tidak bisaa bicara.
“Cukupp…aku mohon cukupp” Ujarku sambil jalan mendekati Mama, memeluknya erat.
“ Ahhhh…. “ frustasi Ayah dan berjalan keluar rumah
Aku menangis sejadi-jadinya dengan Ibu, dalam dekapanku Ibu mencoba meluapkan semua amarahnya. Saat aku mencoba tenang, aku menoleh ke jendela.
“Andreee”
Lagi-lagi, Andre berdiri di luar jendela dengan ekspresi dan tatapan yang sama menyaksikan bagaimana hancurnya aku dan keluargaku. Kosong. Aku tidak menemukan jawaban dari dua mata itu. Terlalu sibuk menenangkan Ibu, aku tidak menghiraukannya.
Saat kembali ke ruang tengah dan Ibu sudah istirahat, aku masih mendapatkan Andre di posisi yang sama dengan tatapan yang belum ku temukan artinya.
“ Andree” Aku memanggilnya dan meminta dia untuk masuk. Namun, dia berbalik dan keluar menuju pintu pagar. “Ada apa dengannya?”
Sejak kejadian itu, Dua mata teduh yang setia menunggu di balik jendela tidak pernah ku lihat lagi. Tidak ada lagi Andre yang selalu setia menunggu, dengan candaannya yang receh dan suara tawanya yang berat. Entah karena rindu ini sudah meriang ke sekujur pikir atau ada alasan lain, hingga jalan membawaku sampai di depan kelasnya Andre.
“Andre di mana ya? Kenapa tidak ada di kelas” Tanyaku pada teman kelasnya
“Andre sudah tidak pernah masuk kelas sejak satu minggu yang lalu”
“Kenapa”
“ Aku juga tidak tahu”
“Ada apa dengan Andre? “ Aku bingung, belum juga menemukan jawaban atas pertanyaan yang membuat kepala ku pusing. Aku kembali ke kelas, mencari kesalahan, mencoba cari tahu. Tapi, tetap akan berujung pada pertanyaan “Ada apa dengan Andre?”
Keesokan harinya, tepat jam istirahat kedua, saat aku ke ruangan guru mengumpulkan tugas di meja wali kelas, aku melihat sosok yang paling aku benci
“Ibu Susan” Seruku pelan
“Kamu kenal? Dia Mamanya Andre, datang untuk mengurus surat kepindahan Andre”Kata wali kelasku dengan pelan. Aku termangu. Ada sederet kata lahir dari bibirku lantas terbang ke langit-langit, ternyata dia hanya kata bisu yang tak bersuara.
Ada apa dengan Andre? Tarjawablah sudah pertanyaan yang selalu menggema dalam pikiran ku selama ini. Dua mata dibalik jendela ternyata mengunci rahasia yang sama dengan ku. Mata mungil yang mengintip dari balik jendela dulu yang samar-samar ku lihat karena menangis saat keluar dari gudang tempat Ibu Susan dan Ayahku bercumbu ternyata milik Andre. Mata yang sama, yang menyaksikan bahwa selingkuhan ibu ku, Ayah dari wanita yang kucintai.
“hiks..hiks..hiks”
Kali ini, aku masih menangis merangkul sunyi, tanpa bahu untuk bersandar dan telinga untuk mendengar. Aku bingung. Dia mendekat karena tahu, atau dia menjauh karena baru tahu. Selama ini aku terbiasa melihat dua mata dibalik jendela yang ceria dengan senyum yang terus semringgah. Ternyata dua mata itu sabar menyimpan warna-warna ingatan di balik jendela.
Patah. Sebetulnya, hati telah diam-diam menyukainya. Cinta itu sudah ku genggam, tetapi kemudian lepas. Mimpi yang kupikir indah itu, ternyata hanya begitu. Kini, rinduku sekarat saat bahumu jauh diufuk barat.
SELESAI
Komentar
Posting Komentar