Hujan dan Memori Karya :Sepriana Ly Natto

Entah kenapa, aku sangat suka memandangi hujan, bagiku hujan adalah sebuah kenangan. Karena hujan aku dapat menemukan apa arti cinta dan persahabatan itu. Aku selalu memperhatikan setiap tetes hujan itu jatuh membasahi bumi ini. Aku selalu memandangi semua itu penuh arti. Hingga aku selalu teringat saat-saat itu. Saat aku dengannya di bawah setiap air hujan itu.
Masih terlintas jelas kejadian itu dibenakku, kejadian satu tahun silam ketika aku masih bersamanya. Leon, Leonnal Tanubrata lengkapnya, ya itu nama orang yang pernah singgah dalam kehidupanku. 
Kak Leon. Tungguin aku kenapa sih? Jangan buru-buru...  Omelku pada pemudah yang bernama leon itu. 
Yah, lemot banget sih kamu, Nes? Cepat dikit kenapa sih uda hampir hujan ini.
Iya, bangke. Jawabku sembari berlari kecil kepadanya.
Ines Lee itu adalah nama lengkapku. Aku terlahir dari keluarga yang cukup terpandang. Aku masih duduk di bangku perkuliahan semester III, sedangkan Kak Leon, dia sudah semester V. Aku dan Kak Leon bersahabat sejak SMP. Dan sejak saat itu pila aku mulai menyimpan rasa padanya.
Nes. Cepat lari. Udah mulai gerimis nih?
Iya,iya. Aku capek tau. Ucapku sedikit ngos-ngosan.
 Wah mau hujan nih, udah lama gak hujan-hujanan. Aku kangen hujan. Kerjain Kak Leon aja ah. Umpatku dalam hati.
Aduh. Teriakku mengeluh pura-pura jatuh.
Nes. Kamu kenapa? Kamu gak apa-apa kan? tanya kak leon sedikit khwatir padaku.
Sakit kak, kaki aku. Kepleset nih.
Haduh, ada ada-ada aja. Mana mau hujan lagi. Omel kak leon sendiri.
Tiba-tiba hujan pun mulai turun dengan derasnya. Aku sangat senang hari ini, karena akhirnya kau dapat merasakan lagi sensasi hujan.
Yeayy, hujan. Ucapku berdiri dan kegirangan.
Kamu kok bisa berdiri ? Kamu bohongin kakak ya ?
Hehe, maaf kak. Abis udah lama aku gak hujan-hujanan. Ucapku sambal menunjukan jari tanganku membentuk huruf V. 
Dasar Nes nyebelin. Kan kakak jadi basah semua.
Ya, maaf kak ? jawabku lesu.
Iya, aku maafin kok. Terus sekarang kita gimana ? Basah nih.
Yaudah pulang aja ? jawab kak Leon sembari menarik tanganku kananku. Dag dig dug, itu yang saat ini aku rasakan. Entah ada apa, jantungku berdegup kencang hingga aku tak mampu berkata apa-apa.
 Apa aku beneran cinta kak Leon ? tanyaku pada diriku sendiri. Aku masih terpaku atas perlakuan itu, hingga aku tak sadar jika aku sudah tepat berada di depan gerbang rumahku.
Udah sampai, kamu cepatan masuk terus ganti baju ya ? Nanti kamu sakit. Ucap kak Leon tiba-tiba. 
I iya, Kak. Jawabku agak gagu.
Akupun masuk ke dalam rumah dan segera pergi ke kamar untuk ganti baju. Masih hangat genggaman tangan itu. Genggaman kak Leon yang membuat jantungku berdetak hebatnya. 
Tiga hari sudah kejadian itu berlalu. Masih teringat jelas kejadian saat tanganku di genggam kak Leon di bawah guyuran air hujan. Dan ternyata, pagi ini mendung menyelimuti angkasa. Sang mentari pun tak menampakan sinar indahnya. 
Hujan, aku suka hujan. Ucapku dalam hati. Pagi ini waktu sudah dua dan pergi menuju ruang makan. Disana kulihat ayah dan bundaku bersama kakak tersayangku, Kak Jefry.
Pagi salamku pada semuanya.
Pagi juga sayang.jawab bunda sembari mencium keningku.
Nes berangkat dulu yah ? Takut ditunggu lama. Pamitku pada semua orang yang ada di ruang makan.
Pasti Leon yang nunggu. Iya kan ?
Udah tau, ngapain tanya. Jawabku pada kak Jefry.
Ih adek nyebelin. Kamu suka Leon ya ? perasaan kamu belain dia terus. Duga kak Jefry padaku.
Tau ah. Ucapku sewot karena takut kak Jefry tau itu.
Beberapa menit kemudian aku pun telah sampai di depan gerbang Kampus. Ku lihat disana ada kak Leon yang berdiri dengan seorang perempuan dan mereka sangat mesra. Rasa cemburu mulai hinggap di hatiku. Hal itu serasa menyayat-nyayat hati kecilku yang telah mulai rapuh ini. Tak terasa air mata mulai menetes bersamaan dengan gerimis yang mulai turun. Beberapa waktu kemidian, Kak Leon pun menoleh ke arahku dan tersenyum padaku. Spontan aku pun menghapus air mataku dan bergegas pergi mendekati kak Leon.
Hay kak ? sepaku padanya. 
Kamu lama banget sih, Nes ? Sampai jamuran nih kakak tunggu kamu. Omel kak Leon padaku.
Ya maaf, tadi dijalan macet. Elakku pada kak Leon.
Yaudah, aku maafin. Oh ya, kenalin ini Ima, teman sekelas aku. Sembari menunjukan perempuan yang ada disampingnya itu.
Hay, kak. Aku Ines. Ucapku sembari mengulurkan tangan.
Ima. Ucapanya padaku dengan membalas uluran tangan.
Yaudah, masuk yuk ? udah gerimis nih.
Iya. Jawabku singkat.
Cantik ya, itu hal pertama yang aku mengerti sejak pertama melihat kak Ima. Mereka berdua pun terlihat sangat cocok saat berjalan berdampingan. Dan kulihat pula bagaimana ekspresi kak Leon saat bersama kak Ima. Ada hal yang sangat berbeda yang nampak padanya. Hingga aku pun mulai berfikir, jika aku harus membuang jauh-jauh perasaanku pada kak Leon. Karena mungkin semua itu adalah hal yang terbaik untukku dan untuknya.
Satu bulan sudah waktu telah berlalu dan kini aku juga telah mendengar kabar dari temanku, jika kak Leon dan kak Ima sudah berpacaran. Sakit hati melanda hatiku saat ini. Sangat perih semua itu dirasakan, meskipun dari awal melihat mereka pertama bersama, aku ingin melupaka kak Leon, tetapi tetap saja susah untuk  melakukannya. Yang ada sekarang ini, hanya kegalauan membayangi hari-hariku. 
Malam ini hujan mulai turun algi dengan derasnya. Kegelisahan mualai membayangi anganku. Enath apa yang sedang aku fikirkan, perasaan tak enak datang begitu saja. 
Nes. Teriak kakakku dari luar kamar.
Ada apa kak ? tanyaku sembari membuka pintu.
Ada, Leon. Kamu temui dia dulu sana.
Hem, iya. Jawabku dengan nada lesu.
Aku pun turun dari lantai dua menuju ruang tamu. Ku lihat kak Leon disana duduk diam tak seperti biasanya.
Ada apa kak ? tanyaku padanya. 
Kamu kenapa sih Nes ? kenapa akhir-akhir ini kamu jarang ketemu kakak ?
Aku, aku gak ada apa-apa kok. Ucapku sedikit mengelak.
Kamu bohong. Jujur sama kakak.
Udahlah kak. Buat apa aku jujur ? semua itu juga gak akan berguna.
Maksud kamu apa ?
Kakak gk tau maksud aku ? Aku itu sayang dan cinta sama kakak.
Sayang ? Cinta ?
Iya, aku sayang dan cinta. Tapi, semua udah percuma kan ? Udahlah, mendingan kakak pulang aja.
Tapi, Nes
Udah, kakak pulang. Ucapku sembari mendorong kak Leon keluar rumah. Hujan deras pun mengguyur dengan kencangnya seakan mengterti perasaanku malam ini.
Ines. Maafin kakak kalau selama ini kakak gak peka sama kamu. Kakak juga sayang sama kamu. Teriak kak Leon dari luar gerbang dengan berhujan-hujanan dan aku pun tak menolehnya sedikitpun.
Ciitt.suara rem mobil terdengar jelas di telingaku tepat di depan rumahku. Spontan akupun menoleh. Aku sangat kaget karena ternyata kak leon tertabrak mobil itu dan terkapar lemah tak berdaya.
Kak Leon. teriakku dari depan pintu dan bergegas berlari mendekatinya. 
Kak Leon, kakak bangun kak ? Ines sayang kakak. Ines mau kakak bertahan. Ucapku sambil menangis ketakutan.
Nes Ines, maafin kakak ya? Kakak udah banyak salah sama kamu? ucap kak Leon terbata-bata menahan sakitnya. 
Kakak gak salah, yang salah Ines. Kaka bertahan ya buat Ines? Ines sayang kakak.
Ka kak ju ga sayang kamu. Dan hujan ini adalah saksi, ka kalau kakak juga cin ta kamu. Ucap kak Leon yang semakin terbata dan suara yang tidak jelas.
Iya kak. Ines cinta banget sama kakak. Kakak jangan bicara dulu. Ines mau bawah kakak ke rumah sakit. Kakak bertahan untuk Ines ya ? pintaku dengan nada bergetar karena takut kehilangan kak Leon.Gk usah, Nes. Ka kak u dah gak kuat. Kakak mau pergi a ja. Ka kak sayang In nes. Ucapannya untuk terakhir kalinya.
Kak Leon.. teriakku histeris melihat kepergiaan kak Leon, orang yang sangat aku sayangi, menangis dan menyesal itu yang kurasakan saat ini
Paginya, pemakaman pun telah dilaksanakan. Terlihat jelas gundukan tanah merah itu telah menyelimuti jenazah kak Leon. Taburan bunga warna-warni masih segar di atasnya. Batu nisan pun juga telah terpasang rapid an bertuliskan sebuah nama Leonal Tanubrata. Ya, orang yang pertama mengisis hidupku sudah pergi jauh disana, di tempat yang tenang dan indah untuknya.Selamat jalan kak Leon, aku sayang kamu ucapku terkhir kalinya sebelum meninggalkan tempat pemakaman. 
Ines. Panggil seseorang sembari memegang pundakku.
Eh, kak jefry. Sadarku dari lemunan itu.
Sedang apa kamu ? kenapa melamun sendiri ? tanya kakak Jefry lembut.
Aku gak melamun kok. Aku cumankepikiran seseorang
Leon ? tanyanya padaku.
Iya. Jawabku dengan nada lembut.
Yudah, dari pada kamu mikirin dia terus, lebih baik kamu ke makamnya. Hari ini kan tepat setahun dia meninggal. Ucap kak Jefry mengingatkanku.
Benar juga, kak. Ya udah deh, aku kesana. Responku yang kemudian bersiap-siap untuk pergi ke makam itu.
Waktu memang cepatlah berlalu dan kita takkan pernah bisa tahu, kapan Tuhan akan mengambil nyawa kita. Dan kini, meski kak Leon orang yang paling aku sayangi pergi meninggalkanku untuk selamanya, aku takkan pernah melukapan semua kenangan saat bersamanya. Aku akan selalu mengingatnya sampai Tuhan memberi tahu batas waktuku untuknya. Sampai aku akan mengerti semua memoriku ini, di balik semua hujan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KIDUNG LARA Oleh: Edelbertus Odil Dodok

DUA MATA DIBALIK JENDELA Karya : Maria Cindayani Rosari Limun